Polemik Kasus Pengeroyokan Baturiti Memanas, Dewa Nyoman Rai SH: Hormati Proses Hukum, Jangan Salahkan Keluarga Korban
NUSAMEDIANEWS.COM | BULELENG – Polemik, perang narasi, dan perdebatan yang tak kunjung usai di media sosial terkait kasus tewasnya seorang warga asal Desa Sidatapa yang diduga mencuri ayam dan kemudian menjadi korban pengeroyokan di Baturiti, Tabanan, kini semakin meluas dan melibatkan netizen dari berbagai daerah di Indonesia. Fenomena ini mulai memicu perpecahan pandangan dan berpotensi menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat Bali.


Beragam reaksi bermunculan di ruang publik maya. Sebagian netizen menunjukkan empati mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Sebagian lain seolah memaklumi tindakan pengeroyokan dengan alasan korban diketahui sering melakukan tindak pidana atau berstatus residivis. Namun tak sedikit pula yang menyikapi dengan bijak: mencuri tetaplah perbuatan melawan hukum, tetapi melakukan pengeroyokan hingga menyebabkan kematian adalah kejahatan yang jauh lebih berat dan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.
Merespons suasana yang semakin memanas dan berisiko merusak kerukunan, Anggota DPRD Bali Daerah Pemilihan Buleleng, Dewa Nyoman Rai, S.H., angkat bicara. Politisi yang dikenal rendah hati dan kerap turun langsung membantu masyarakat kecil, anak-anak kurang mampu, serta lansia ini mengajak seluruh elemen masyarakat mendinginkan suasana, menjaga kedamaian, serta tetap merawat tali persaudaraan dan persatuan yang menjadi ciri khas masyarakat Bali.
Diketahui, Dewa Nyoman Rai dikenal sebagai tokoh yang tidak hanya bekerja di ruang sidang, melainkan senantiasa menyambangi warga yang membutuhkan. Setiap kali melihat unggahan yang menceritakan kesulitan masyarakat di media sosial, ia selalu berupaya mencari alamat dan kontak yang bersangkutan untuk memberikan bantuan secara langsung, sederhana, namun tulus dari hati.
Hormati Proses Hukum, Jangan Menghakimi Sepihak
Terkait peristiwa tragis di Baturiti, Dewa Nyoman Rai menegaskan agar seluruh pihak berpegang pada prinsip negara hukum dan menghormati proses penegakan hukum yang sedang berjalan secara profesional.
“Kita serahkan semuanya kepada pihak berwajib untuk mengungkap fakta, memproses pelaku sesuai peraturan perundang-undangan, dan memberikan keadilan yang adil tanpa pandang bulu. Jangan ada satu pihak yang merasa paling benar sendiri, apalagi mengambil alih peran hukum dengan narasi yang memanaskan suasana,” ujar Dewa Nyoman Rai.
Keluarga Tidak Bersalah, Mereka Juga Korban
Secara khusus, ia memohon kepada masyarakat dan seluruh pengguna media sosial agar tidak melontarkan ucapan yang menyakiti, menghujat, atau menyalahkan istri serta anak-anak yang ditinggalkan korban.
“Satu hal yang harus kita sadari bersama: yang bersalah adalah almarhum yang diduga melakukan perbuatan tersebut. Istri dan anak-anaknya tidak ada andil sedikit pun dalam peristiwa ini. Justru merekalah pihak yang paling dirugikan saat ini—mereka kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarga,” tegasnya dengan nada haru.
Ia menambahkan, sebesar apa pun bantuan materi yang nantinya diberikan, tidak akan pernah mampu menggantikan kehadiran seorang ayah dan suami. “Andai mereka bisa memilih, pasti mereka ingin suami dan ayahnya tetap hidup bersama mereka. Maka dari itu, mari kita hentikan ujaran yang menyudutkan keluarga yang ditinggalkan. Mari kita doakan bersama agar istri almarhum senantiasa diberi kekuatan, ketabahan, dan kelapangan hati. Semoga anak-anaknya kelak tumbuh menjadi pribadi yang sukses, berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara,” harapnya.
Empati untuk Semua Pihak, Keadilan untuk Semua
Di sisi lain, Dewa Nyoman Rai juga menyampaikan rasa empati yang mendalam terhadap keluarga dari mereka yang diduga melakukan pengeroyokan. “Kami turut merasakan beratnya ujian yang sedang menimpa kedua belah pihak. Semoga keadilan benar-benar ditegakkan dan dirasakan oleh semua pihak sesuai dengan kebenaran yang sesungguhnya,” ucapnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan Dewa Nyoman Rai melalui akun media sosial pribadinya, yang kini disebarluaskan dan disambut positif oleh banyak warga yang menginginkan suasana tetap damai dan tidak terbelah.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua: kejahatan harus dilawan dengan hukum yang benar, bukan dengan kekerasan yang melahirkan kejahatan baru. Menjaga persatuan dan mengedepankan keadilan yang beradab adalah cara terbaik kita menghormati nilai kemanusiaan dan jati diri masyarakat Bali yang santun dan berbudaya.
Reporter: Kadek Archo
#KasusBaturiti #KeadilanTanpaKekerasan #DewaNyomanRai #PersatuanMasyarakatBali #HormatiProsesHukum
—
