Angastia: Buleleng Butuh Infrastruktur yang Merata, Bukan Bandara yang Hanya Menguntungkan Kelompok Tertentu
NUSAMEDIANEWS.COM | BULELENG – Tokoh masyarakat Buleleng yang dikenal vokal menyuarakan kebenaran dan berani berbicara apa adanya, Angastia atau yang akrab disapa Anggas, kembali menyoroti wacana pembangunan bandara di wilayahnya. Ia mengaku sudah memahami alur wacana ini sejak tahun 2008 silam, bahkan mengingat dengan jelas bagaimana Pemkab Buleleng saat itu menyambut undangan investor di Jerman, hingga ia sendiri turut menganggarkan dana sebesar Rp450 juta untuk mendampingi Pemkab bersama DPR kala itu—saat APBD belum disahkan secara resmi.

“Saat itu niat Pemkab menyambut investor yang ingin membangun Buleleng memang terbuka lebar. Namun faktanya yang hadir di lapangan hanyalah makelar-makelar yang mengaku-ngaku sebagai investor asli, padahal tak ada niat sungguh-sungguh untuk menanamkan modal,” ungkap Anggas dengan nada kecewa.
Peringatan Keras Terkait Penerbitan PENLOK
Kini, di tengah kembali menguatnya wacana pembangunan bandara, Anggas memohon kepada Pemerintah Pusat dan Bapak Presiden agar berhati-hati dalam menerbitkan Peraturan Presiden tentang Lokasi (PENLOK). Ia khawatir instrumen hukum penting tersebut justru disalahgunakan untuk kepentingan kelompok tertentu maupun keuntungan pribadi, bukan semata-mata untuk kepentingan masyarakat luas.
“Saya bertanya dalam hati: mengapa ada pihak yang mengaku sebagai sesepuh atau ‘raja-raja’ yang menagih janji langsung kepada Presiden? Apakah ada skenario yang didesain sedemikian rupa atas nama mereka? Saya tegaskan dengan tegas: Raja yang sebenarnya memegang kendali arah pembangunan Bali saat ini adalah Gubernur Wayan Koster,” tegas Anggas.
Fokus Koster pada Rakyat, Adat, dan Budaya
Menurut Anggas, Gubernur Koster tidak pernah sekalipun bersuara lantang menuntut pembangunan bandara. Justru perhatian beliau tercurah penuh untuk memperbaiki nasib pekerja, melindungi petani dari alih fungsi lahan, serta memperkuat jati diri adat dan budaya Bali yang mulai tergerus arus modernisasi yang tidak terkontrol.
“Bapak Gubernur sibuk mengurus hajat hidup orang banyak, menjaga keseimbangan alam dan manusia, bukan terjebak pada proyek yang belum tentu memberi manfaat adil bagi seluruh rakyat Buleleng,” tambahnya.
Jangan Permainkan Psikologis Masyarakat
Anggas juga meminta para pihak yang mengaku memiliki koneksi dengan investor untuk berhenti mempermainkan harapan dan psikologis masyarakat. Warga Buleleng sudah cukup sering diberi harapan palsu, namun hasilnya tak pernah nyata dirasakan.
“Sudahlah, hentikan permainan kata dan janji manis yang tak pernah ditepati. Buleleng memang sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur—namun yang dibutuhkan adalah jalan yang mulus, irigasi yang lancar, pasar yang layak, sekolah yang memadai, dan fasilitas kesehatan yang merata. Bukan bandara yang pada akhirnya hanya akan dikuasai dan menguntungkan sekelompok orang saja, sementara masyarakat luas hanya menjadi penonton,” pungkas Anggas dengan tegas namun penuh harap.
Peliput: Kadek Ariawan
#WacanaBandaraBuleleng #Angastia #PembangunanBerkelanjutan #KepentinganRakyat #BulelengUntukSemua
—
