Nusamedia Bali

Situs Makam Mpu Gandring di Blitar Terbengkalai, Jejak Legenda Keris Ken Arok Butuh Perhatian

NUSAMEDIANEWS.COM | BLITAR – Kondisi Situs Makam Eyang Mpu Gandring di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, menjadi sorotan setelah dilaporkan tidak terawat. Situs yang dikaitkan dengan legenda keris Mpu Gandring tersebut dinilai membutuhkan perhatian serius agar nilai sejarah dan warisan budayanya tidak semakin terabaikan.

Mpu Gandring dikenal luas dalam kisah sejarah dan tradisi lisan Jawa sebagai empu pembuat keris yang memiliki kaitan erat dengan perjalanan Ken Arok, tokoh yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan Singhasari. Kisah keduanya termuat dalam Pararaton, naskah yang menjadi salah satu sumber penting dalam penelusuran sejarah Jawa pada masa kerajaan.

Dalam kisah tersebut, keris buatan Mpu Gandring menjadi bagian penting dari rangkaian peristiwa berdarah yang mengiringi perjalanan Ken Arok menuju kekuasaan. Legenda ini terus hidup dalam ingatan masyarakat dan menjadi bagian dari khazanah budaya perkerisan Nusantara.

Namun, keberadaan situs yang dikaitkan dengan tokoh legendaris tersebut kini menghadapi persoalan pemeliharaan. Kondisi lokasi yang dilaporkan kurang terawat memunculkan kekhawatiran di kalangan pemerhati sejarah dan masyarakat setempat mengenai keberlanjutan pelestarian warisan budaya tersebut.

“Melihat besarnya kontribusi situs ini terhadap jejak peradaban Singhasari hingga Majapahit, kondisi makam yang tidak terawat ini sangat ironis. Jika dibiarkan, kita bukan hanya kehilangan fisik makam, melainkan juga memutus rantai memori sejarah bangsa,” ujar perwakilan pemerhati cagar budaya setempat.

Jejak Legenda yang Melekat dengan Sejarah Blitar

Desa Plumbangan dan kawasan sekitarnya memiliki sejumlah peninggalan yang berkaitan dengan sejarah serta tradisi masa kerajaan di Jawa Timur. Salah satunya adalah Candi Plumbangan, bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari kekayaan arkeologis Kabupaten Blitar.

Dalam narasi sejarah lokal, kawasan tersebut juga dikaitkan dengan cerita mengenai Mpu Gandring dan perjalanan Ken Arok. Sejumlah lokasi bahkan dipercaya masyarakat memiliki hubungan dengan tradisi pembuatan keris pada masa lampau.

Meski demikian, hubungan antara lokasi makam, tempat pembuatan keris, dan tokoh-tokoh dalam legenda perlu ditelaah berdasarkan sumber sejarah serta kajian arkeologis yang dapat dipertanggungjawabkan. Pembedaan antara catatan sejarah, tradisi lisan, dan kepercayaan masyarakat menjadi penting agar pelestarian situs berjalan seiring dengan penguatan literasi sejarah.

Pemerintah Didorong Turun Tangan

Kondisi situs yang dilaporkan kurang terawat mendorong para pecinta sejarah dan warga setempat meminta adanya langkah nyata dari pemerintah daerah maupun instansi yang berwenang di bidang pelestarian kebudayaan.

Pemerintah Kabupaten Blitar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) terkait, serta pihak yang bertanggung jawab atas pemeliharaan situs diharapkan dapat melakukan peninjauan langsung untuk mengetahui kondisi terkini dan menentukan langkah penanganan yang diperlukan.

Upaya tersebut dapat dimulai melalui pendataan kondisi fisik, pembersihan lingkungan secara tepat, pemeliharaan berkala, pemasangan informasi sejarah, serta penentuan status dan kewenangan pengelolaan situs.

Apabila memenuhi persyaratan dan didukung kajian yang memadai, pengembangan kawasan sebagai tujuan wisata sejarah juga dapat dipertimbangkan. Namun, pengembangan pariwisata harus tetap mengutamakan pelindungan situs dan tidak mengubah atau merusak bagian yang memiliki nilai sejarah.

Jangan Biarkan Warisan Sejarah Terabaikan

Pelestarian peninggalan sejarah tidak hanya berkaitan dengan menjaga bangunan atau lokasi fisik, tetapi juga merawat pengetahuan, tradisi, dan ingatan kolektif yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Legenda Mpu Gandring dan keris yang dikaitkan dengan Ken Arok telah menjadi bagian dari cerita populer tentang perjalanan kerajaan-kerajaan di Jawa. Karena itu, situs yang diasosiasikan dengan kisah tersebut memiliki potensi sebagai sarana edukasi sejarah sekaligus pengenalan kebudayaan lokal.

Kini, perhatian dan tindakan nyata dari pihak terkait sangat dibutuhkan agar situs tersebut memperoleh penanganan yang sesuai dengan kondisi dan nilai pentingnya.

Jangan sampai warisan sejarah hanya ramai diceritakan, tetapi luput dirawat di tempat asalnya.

(JW)

nusamedia

Bersama Menyuarakan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *