Koster Luncurkan 11 Bus Listrik Trans Sarbagita, Operasional Ditargetkan November 2026

NUSAMEDIANEWS.COM | DENPASAR — Pemerintah Provinsi Bali mempercepat langkah menuju transportasi ramah lingkungan. Gubernur Bali Wayan Koster resmi meluncurkan 11 unit bus listrik Trans Sarbagita beserta enam perangkat pengisian daya (charging station) di Lapangan Timur Niti Mandala Renon, Denpasar, Kamis (22/10/2026).
Armada tersebut merupakan hibah Pemerintah Korea Selatan melalui Proyek Bali E-Mobility. Kehadirannya diharapkan mendukung penggunaan energi bersih sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil di sektor transportasi.
Koster mengatakan, Bali telah memiliki kebijakan energi bersih sejak 2019 melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih dan Pergub Nomor 48 Tahun 2019 tentang Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.
Menurut Koster, percepatan transisi energi perlu dilakukan karena pembangkit listrik dan transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil disebut menjadi sumber utama polusi udara di Bali.
“Karena itu, kebijakan ini kita percepat,” ujar Koster.


Bus Listrik Berdesain Tri Datu
Salah satu hal menarik dari armada baru ini adalah desainnya yang mengangkat nilai budaya Bali. Koster mengungkapkan, pihaknya turut memberikan arahan mengenai pemilihan warna hitam, merah, dan putih yang merepresentasikan filosofi Tri Datu.
“Desain dan warnanya pun kami yang mengarahkan, kombinasi warna hitam, merah dan putih sebagai lambang Tri Datu sebagai simbol yang lekat dengan nilai budaya Bali,” jelasnya.
Selain membawa identitas lokal, 11 bus listrik tersebut disebut telah memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dengan pengerjaan bodi kendaraan dilakukan di Indonesia.
Koster mengajak masyarakat untuk mulai mempertimbangkan kendaraan listrik berbasis baterai karena dinilai lebih hemat dan efisien, tidak bising, serta tidak menghasilkan emisi gas buang langsung saat digunakan.
“Ayo rame-rame kita beralih menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai,” ajaknya.
Bali Siapkan Pengembangan Energi Surya
Transisi energi, menurut Koster, tidak cukup hanya dilakukan melalui penggunaan kendaraan listrik. Upaya tersebut juga perlu didukung penyediaan sumber listrik yang lebih bersih.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah pusat telah mendukung alokasi kapasitas 1.000 megawatt untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Bali.
Proyek tersebut masih dalam proses perizinan dan diharapkan mulai dikembangkan pada 2027.
Pengembangan energi surya diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan listrik sekaligus mendukung peralihan menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Bappenas Harapkan Jadi Contoh Nasional
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengapresiasi langkah Pemprov Bali dalam mempercepat transisi energi melalui kolaborasi dengan Pemerintah Korea Selatan dan Global Green Growth Institute (GGGI).
Menurut Rachmat, proyek Bali E-Mobility diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan transportasi ramah lingkungan bagi daerah lain di Indonesia.
Ia juga mengaitkan upaya pelestarian lingkungan dengan filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Kolaborasi tersebut diharapkan menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.
Sebanyak 11 bus listrik tersebut direncanakan melayani Koridor I Trans Sarbagita, dengan rute yang menghubungkan GOR Ngurah Rai, Universitas Udayana, hingga kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK).
Operasional armada ditargetkan mulai November 2026.
Kehadiran bus listrik ini diharapkan menjadi bagian dari pengembangan transportasi publik Bali yang lebih modern dan ramah lingkungan. Namun, manfaatnya bagi masyarakat nantinya juga akan ditentukan oleh kesiapan operasional, keterjangkauan layanan, dan konsistensi pengelolaan armada.
Dengan dukungan infrastruktur pengisian daya dan pengembangan energi bersih, proyek ini menjadi salah satu langkah Bali dalam mendorong transportasi rendah emisi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan pariwisata.
(Anugrah Arifanto)

