Nusamedia Bali

Lindi TPA Suwung Disebut Butuh Teknologi Khusus, Shalahudin Optimistis Perbaikan Tuntas

NUSAMEDIANEWS.COM | DENPASAR — Persoalan air lindi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Sarbagita Suwung, Denpasar, dinilai membutuhkan penanganan khusus. Karakteristik lindi yang terbentuk dari timbunan sampah selama puluhan tahun dinilai tidak dapat disamakan dengan pengolahan limbah dalam skala kecil.

Pandangan tersebut disampaikan Muhammad Shalahudin Jamil, S.H., Wabendum BPD HIPMI Bali Bidang III ESDM, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, anggota Tim Komunikasi Gubernur Bali, sekaligus Wasekjen DPP Abpednas, Rabu (23/9/2026).

Menurut Shalahudin, persoalan lindi di TPA Suwung merupakan persoalan yang terbentuk melalui proses panjang akibat akumulasi timbunan sampah selama puluhan tahun.

“Air lindi ini berkumpul setelah sekian puluh tahun. Karena itu, penanganannya tidak bisa sembarangan dan tidak seperti treatment air lindi pada umumnya dengan skala kecil,” kata Shalahudin.

TPA Suwung diketahui telah digunakan selama sekitar empat dekade. Sejumlah catatan menyebut kawasan tersebut mulai dipersiapkan sejak 1984 dan mulai dioperasikan pada 1986.

Dalam perkembangannya, TPA Suwung menjadi salah satu lokasi utama pembuangan sampah kawasan Sarbagita. Sebelum adanya pembatasan operasional, volume sampah yang masuk ke kawasan tersebut pernah mencapai sekitar 1.000 ton per hari.

Shalahudin mengatakan, lamanya masa timbunan sampah membuat karakter lindi yang terbentuk membutuhkan metode pengolahan yang lebih kompleks dan teknologi yang sesuai.

“Ini merupakan air lindi yang sudah menahun, bahkan puluhan tahun, dan perlu treatment khusus supaya dapat diolah menjadi air yang dapat digunakan atau difungsikan kembali sesuai standar,” ujarnya.

Pria yang juga berprofesi sebagai pengacara tersebut menambahkan, pengolahan lindi tidak cukup hanya mengandalkan proses biologis dengan mikroorganisme. Menurutnya, diperlukan kombinasi teknologi yang tepat agar proses pengolahan dapat berjalan secara optimal dan memenuhi ketentuan lingkungan.

“Dalam pengolahan air limbah di Suwung ini bukan hanya menggunakan mikroorganisme, tapi juga memerlukan teknologi yang tepat supaya dapat tertangani dengan benar,” jelasnya.

Sejumlah Parameter Pernah Melampaui Baku Mutu

Persoalan kualitas lindi di TPA Suwung sebelumnya juga menjadi perhatian pemerintah. Hasil pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup pada akhir 2025 menemukan sejumlah parameter lindi yang masih melampaui baku mutu, di antaranya Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS), nitrogen total, dan merkuri.

Sejalan dengan kondisi tersebut, penanganan TPA Suwung terus diarahkan pada perbaikan sistem pengelolaan, termasuk Instalasi Pengolahan Lindi (IPL), pola operasional, serta rehabilitasi kawasan.

Shalahudin mengaku optimistis terhadap langkah perbaikan yang dilakukan pemerintah.

“Saya meyakini dan mempercayakan kepada Pemprov Bali. Tahun ini instalasi tersebut sudah dalam proses perbaikan dan kita optimistis masalah lindi ini akan selesai,” katanya.

Ia menilai penggunaan teknologi yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan lindi dapat diolah secara aman dan memenuhi standar lingkungan.

Shalahudin berharap proses perbaikan sistem pengolahan lindi di TPA Suwung dilakukan secara menyeluruh. Dengan demikian, penanganan tidak hanya menyelesaikan persoalan dalam jangka pendek, tetapi juga mampu memberikan solusi berkelanjutan terhadap dampak lingkungan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Reporter: Anugrah Arifanto

#NusamediaNews #TPASuwung #AirLindi #LingkunganHidup #Bali

nusamedia

Bersama Menyuarakan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *