DaerahHead LinesInformationNusamedia BaliUngkap Fakta & RealitaUpdate News

Putra Sayuti Melik Sang Pengetik Teks Proklamasi, Heru Baskoro (84 Tahun) Kini Hidup Sederhana di Kontrakan Bekasi, Berjuang Demi Pengobatan Mata

NUSAMEDIANEWS.COM | BEKASI – Kisah menyentuh hati datang dari Heru Baskoro, putra kandung tokoh kemerdekaan Indonesia sekaligus pengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan yang bersejarah, Sayuti Melik. Di usia yang menginjak 84 tahun, Heru kini menjalani hari-hari dengan penuh keterbatasan di sebuah rumah kontrakan sederhana di kawasan Jalan Cipendawa Baru, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat. Kehidupannya saat ini mematahkan anggapan yang selama ini beredar di masyarakat bahwa keturunan pahlawan nasional pasti hidup makmur dan berkecukupan hingga masa tua.

Heru Baskoro, putra kandung tokoh kemerdekaan Indonesia sekaligus pengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan yang bersejarah, Sayuti Melik.

Bersama istrinya, Treyzia Noviani (65 tahun), Heru menempati kontrakan berukuran kecil bercat biru yang disewa dengan biaya Rp560.000 per bulan. Isi rumah pun seadanya, hanya berperabot sederhana tanpa kemewahan sedikitpun. Menurut keterangan Treyzia, tempat tinggal ini bukanlah tempat pertama mereka setelah kembali ke tanah air. Sejak pulang ke Indonesia pada tahun 2024, pasangan lanjut usia ini sempat berpindah-pindah tempat tinggal beberapa kali sebelum akhirnya menetap di kontrakan ini sekitar empat bulan yang lalu.


Bunyi Teks Proklamasi Kemerdekaan Versi Ketikan Sayuti Melik

Sebagai pengingat sejarah yang tak terpisahkan dari sosok ayahnya, inilah naskah Proklamasi yang diketik ulang oleh Sayuti Melik pada 17 Agustus 1945:

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 45
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno/Hatta


Catatan:

  1. Penulisan tahun 45 merujuk pada tahun Masehi 1945, yang dalam kalender Jepang saat itu tertulis tahun 2605.
  2. Teks ini menggunakan ejaan lama yang berlaku pada masa itu sebelum disempurnakan menjadi Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

Dari Kehidupan Mapan di Luar Negeri Kembali ke Tanah Air

Kehidupan Heru dan Treyzia saat ini sangat kontras dengan masa lalu mereka beberapa dekade silam. Sejak akhir tahun 1990-an, pasangan ini memilih menetap di Kanada. Sebelumnya, Heru bahkan pernah memegang kartu penduduk tetap (Green Card) di Amerika Serikat, bekerja di perusahaan minyak di Texas, serta pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan di perusahaan besar Trans Bakrie di Indonesia.

Keputusan pindah ke Kanada diambil bukan tanpa alasan, melainkan demi kebutuhan penanganan kesehatan yang lebih terjamin. “Suami saya dulunya pemegang kartu tetap Amerika sebelum kami bertemu. Kami mencoba menetap di Kanada karena sistem pelayanan kesehatan di sana lebih terjamin dan memadai bagi kondisinya,” ungkap Treyzia dengan nada haru.


Kesehatan Makin Menurun, Terhalang Biaya Pengobatan

Heru Baskoro lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 1 Juni 1942. Ia adalah putra dari pasangan Sayuti Melik dan Surastri Karma Trimurti—keduanya adalah pejuang kemerdekaan dan tokoh bangsa yang memiliki jasa luar biasa bagi berdirinya Republik Indonesia.

Kini di usia senja, kondisi kesehatan Heru semakin menurun drastis. Mata kanannya telah mengalami kebutaan total, sedangkan mata kirinya hanya memiliki sisa penglihatan yang sangat terbatas dan terus memburuk. Menurut penjelasan Treyzia, dokter menyarankan Heru menjalani operasi pemasangan kornea buatan untuk memulihkan penglihatannya. Sayangnya, teknologi dan prosedur medis tersebut belum tersedia di Indonesia, dan hanya dapat dilakukan di rumah sakit khusus di Kanada, Amerika Serikat, atau Jerman. Rencana pengobatan itu pun harus terhenti di tengah jalan karena kendala biaya yang sangat besar dan belum terjangkau oleh pasangan ini.

Untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, dan kebutuhan sehari-hari lainnya, Heru dan Treyzia kini sepenuhnya bergantung pada bantuan sukarela dari kerabat dekat serta teman-teman lama yang masih ingat pada mereka.

Kisah perjalanan hidup Heru Baskoro menjadi pengingat yang mendalam bagi seluruh bangsa: jasa dan warisan perjuangan orang tua bagi negara tidak otomatis menjamin kesejahteraan keturunannya di masa tua. Putra dari pria yang mengetik teks kemerdekaan Indonesia pun kini harus berjuang sendiri demi memenuhi kebutuhan dasar tempat tinggal dan kesehatan di sisa usianya. Kisah ini pun menyuarakan harapan agar masyarakat maupun pihak berwenang dapat peduli dan meringankan beban yang mereka pikul.

(Fira)

#HASTAG:
#HeruBaskoro #SayutiMelik #PahlawanProklamasi #SejarahIndonesia #Kemanusiaan #BantuanKemanusiaan #Bekasi #PahlawanKemerdekaan #NusamediaNews

nusamedia

Bersama Menyuarakan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *