Bli Eka: Bali Butuh Lebih Banyak “Pengempu”, Bukan Sekadar Ribut di Media Sosial

NUSAMEDIANEWS.COM | DENPASAR – Founder & Chairman Mahardhika Institute, I Putu Eka Mahardhika, S.IP., M.AP., menegaskan bahwa arah pembangunan Bali harus kembali berlandaskan pada tiga pilar utama: menjaga alam, menjaga manusia, serta menjaga budaya. Ia menilai saat ini lebih dibutuhkan sosok “pengempu”—pihak yang merawat dan memikul tanggung jawab nyata—daripada sekadar perdebatan tanpa hasil di ruang digital.
Pemikiran tersebut disampaikan dalam Dialog Publik bertema “Meneropong Bali dari Sudut Berbeda” yang diselenggarakan Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali di Aula Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Minggu (30/8/2026). Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama: I Putu Eka Mahardhika, Dr. Trisno Nugroho, S.E., M.B.A., serta Dr. Agus Made Yoga Iswara, BBA., BBM., MM., CHA.

Pertanian: Bukan Sekadar Produksi, Melainkan Sistem Utuh
Dalam paparannya, Bli Eka menyoroti sektor pertanian sebagai pintu masuk memahami persoalan mendasar Bali. Ia menegaskan bahwa pemahaman terhadap pertanian kini terfragmentasi dan mengalami defisit pengetahuan.
Alih fungsi lahan menjadi salah satu titik kritis. Menurutnya, hilangnya lahan sawah tidak sekadar kehilangan area tanam, tetapi turut memutus jalur air, merusak got dan sempadan, serta mengganggu keseimbangan sistem Subak. Hal ini berpotensi memicu krisis sumber daya air yang lebih luas.
“Ketika lahan pertanian berubah fungsi, kita sering kali bukan hanya kehilangan sawah, tetapi juga memutus urat nadi air bagi Subak,” ujarnya.
Ia mencontohkan kawasan Tegallalang yang masih mempertahankan varietas padi tradisional seperti Silem, Barak, dan Kuning. Meskipun bernilai tinggi dan dikelola secara organik, tantangannya terletak pada bagaimana membangun narasi nilai tambah. Konsumen perlu memahami sejarah, filosofi, dan kaitan padi tersebut dengan ekologi serta budaya lokal.
Ekonomi Berbasis Identitas dan Karakter Lokal
Bli Eka mengkritik pola pengembangan yang sekadar meniru model sukses daerah lain tanpa mempertimbangkan karakteristik wilayah sendiri. Potensi alam dan budaya harus dikembangkan sesuai keunikan masing-masing, bukan dipaksakan dengan konsep seragam yang justru berisiko merusak lingkungan.
Ia menekankan peluang besar dalam ekonomi sirkuler yang berbasis kebutuhan adat dan upacara. Mulai dari buah, janur, kelapa, bunga, hingga sarana banten, semuanya membentuk rantai ekonomi yang kuat jika dikelola petani lokal secara berkelanjutan.
Pura pun tidak boleh dipandang terbatas sebagai tempat ibadah semata. Pura memiliki fungsi lebih luas sebagai penanda struktur sosial, kosmologi, ekologi, hingga ekonomi—seperti terlihat pada peran Pura Masceti yang erat kaitannya dengan sistem pertanian dan irigasi.
Konsep “Ngempu”: Merawat Penuh Tanggung Jawab
Dari refleksi tersebut, Bli Eka memperkenalkan gagasan “Ngempu”, yaitu tindakan merawat sepenuh hati dan bertanggung jawab, layaknya orang tua membesarkan anak hingga mandiri. Bali sangat membutuhkan orang-orang yang bersedia menjadi “Pengempu”—pihak yang bergerak nyata menjaga alam, manusia, dan budaya.
Ia pun menyinggung dinamika di media sosial yang sering kali terjebak perdebatan siapa benar atau salah. Hal ini dinilai tidak cukup.
“Pertarungan di media sosial sudah terlalu banyak. Sekarang kita membutuhkan lebih banyak pertarungan di dunia nyata: bagaimana mendampingi masyarakat sejak awal hingga mereka benar-benar mampu berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya.
Forum ini diharapkan menjadi jembatan antara akademisi, praktisi, masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk melahirkan langkah konkret, bukan sekadar gagasan retoris.
“Bali membutuhkan orang-orang yang mau menjadi pengempu. Orang-orang yang secara sadar mau menjaga alam, menjaga manusia, dan menjaga budaya,” pungkas Bli Eka.
(Anugrah Arifanto | Nusamedia)
Tagar: #PembangunanBali #Ngempu #PertanianBali #EkonomiLokal #BudayaBali #IWOBali #Nusamedia
