Jejak Nihil Rombongan Jurnalis di Selat Sunda, Waketum IMO-Indonesia Soroti Penanganan Musibah
NUSAMEDIANEWS.COM | JAKARTA – Operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru speedboat Arupadhatu I yang hilang kontak di perairan Selat Sunda resmi dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari, termasuk masa perpanjangan tiga hari.

Tim SAR gabungan belum menemukan keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya. Pada hari terakhir pencarian, operasi melibatkan ratusan personel dan menjangkau wilayah laut yang diperluas.
Meski operasi SAR gabungan dihentikan, Basarnas menyatakan pencarian dapat kembali dibuka apabila ditemukan informasi atau petunjuk baru mengenai keberadaan kapal dan para korban. Pemantauan melalui unsur terkait, termasuk kapal yang melintas dan jaringan informasi di wilayah perairan, tetap dilakukan.
Situasi tersebut mendapat perhatian dari Wakil Ketua Umum IMO-Indonesia, Tan Ersanius. Ia menilai penghentian operasi SAR perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi secara menyeluruh proses penanganan musibah, termasuk aspek keselamatan pelayaran dan pengawasan terhadap kapal yang digunakan.
“Gubernur Andra Soni belum mampu membuktikan kinerjanya dengan baik dalam mengatasi musibah yang terlanjur terjadi,” kata Ersanius di Jakarta, Jumat (18/9/2026) malam.
Menurut Ersanius, pemerintah dan aparat terkait perlu memastikan seluruh aspek yang berkaitan dengan keberangkatan kapal, kelayakan armada, pengawasan, serta prosedur keselamatan diperiksa secara menyeluruh.
“Seorang gubernur memiliki peran penting dalam hal ini, di samping kementerian terkait. Jadi tidak hanya pemilik atau operator kapal yang bisa dipersalahkan,” ujarnya.
Ersanius juga mendorong aparat penegak hukum melakukan penyelidikan apabila terdapat dugaan pelanggaran dalam aspek keselamatan maupun perizinan pelayaran.
“Dalam situasi ini, seluruh pihak yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab perlu diperiksa secara objektif berdasarkan fakta dan ketentuan yang berlaku,” katanya.
Ia juga menyoroti perhatian pemerintah terhadap aspek hak asasi manusia dalam penanganan musibah tersebut, termasuk sikap Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai.
“Mana suara Pigai yang dulu, kok tenggelam begitu saja?” ujar Ersanius.
Menurutnya, lima jurnalis tersebut sedang menjalankan tugas jurnalistik untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau ketika kapal yang mereka tumpangi hilang kontak.
“Lima jurnalis itu sedang berjuang menunaikan tugasnya di area bencana alam agar publik termasuk pemangku kepentingan bisa menentukan langkah. Mereka berangkat dengan perhitungan, menyewa armada dan kru yang diyakini memadai, namun kemudian hilang kontak tanpa jejak di saat-saat krusial,” paparnya.
Ersanius mengaku bukan pakar SAR. Namun, berdasarkan pemantauan dan keterlibatan relawan IMO-Indonesia sejak hari ketiga pencarian, ia menilai perlu adanya evaluasi terhadap wilayah pencarian dan kemungkinan munculnya petunjuk baru.
“IMO-Indonesia mengerahkan relawan sejak hari ketiga pencarian. Kami punya data dan menyaksikan langsung prosesnya,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung pencopotan Muhammad Masyhud dari jabatan Direktur Jenderal Perhubungan Laut. Menurut Ersanius, perubahan jabatan tersebut tidak serta-merta menghapus kebutuhan untuk mengevaluasi tanggung jawab dan kebijakan kementerian terkait dalam aspek keselamatan pelayaran.
Sebelumnya, operasi SAR terhadap rombongan Arupadhatu I dihentikan setelah tim gabungan menyisir wilayah laut, darat, dan udara selama 10 hari. Pada hari terakhir, sebanyak 24 kapal dikerahkan dengan area pencarian mencapai sekitar 8.509 nautical mile persegi.
Hingga operasi ditutup, tim SAR belum menemukan tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang hilang. Namun, Basarnas memastikan operasi dapat dibuka kembali apabila ditemukan petunjuk baru.
Adapun lima jurnalis yang dilaporkan hilang yakni Muhammad Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu, serta fotografer lepas Donal Husni. Tiga lainnya adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto yang ikut sebagai pemandu.
Hingga berita ini disiarkan, Andra Soni, Natalius Pigai, Duddy Purwagandhi, serta pihak-pihak terkait lainnya masih dalam upaya dikonfirmasi terkait pernyataan dan sorotan yang disampaikan Tan Ersanius.
Redaksi NUSAMEDIANEWS.COM menyediakan ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak-pihak yang disebutkan, sesuai amanat Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Reporter: Chairul
#NusamediaNews #SelatSunda #ArupadhatuI #JurnalisHilang #OperasiSAR
