DaerahHiburanSosBudTechnologyUpdate News

MENJAGA WARISAN PERADABAN BALI: SINERGI SPIRITUAL, BUDAYA, TATA RUANG DAN KEBIJAKAN JADI KUNCI UTAMA TRANSFORMASI

NUSAMEDIANEWS.COM, DENPASAR – Peradaban Bali kini berada di persimpangan jalan, di mana kemajuan zaman dan arus globalisasi bertemu dengan tantangan pelestarian nilai-nilai luhur yang menjadi identitas utamanya. Menjawab tantangan krusial tersebut, Seminar Nasional bertajuk “Menjaga Warisan Peradaban Bali: Sinergi Spiritual, Budaya, Tata Ruang dan Kebijakan dalam Transformasi Peradaban Bali” sukses digelar secara hibrida di Aula Taman Asoka, Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar, pada Minggu (10/5/2026).

Acara yang dihadiri total 458 peserta, baik secara langsung maupun daring, ini mempertemukan para pemangku kepentingan strategis; mulai dari Sulinggih, akademisi, pemangku adat, cendekiawan, hingga generasi muda Hindu. Forum ini menjadi ruang dialog krusial dan wadah perumusan langkah nyata untuk menjaga agar Bali tetap kokoh berdiri sebagai pusat spiritual dan peradaban unggulan Nusantara.

Secara resmi, seminar dibuka oleh Gubernur Bali yang diwakili Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali, I Gede Suralaga. Dalam sambutannya, beliau menegaskan posisi penting Bali di mata dunia, yang tidak boleh semata-mata dinilai dari sisi pariwisata semata.

“Bali bukan sekadar destinasi wisata, melainkan sebuah peradaban hidup yang memiliki keunikan sistem sosial, budaya, dan tata ruang yang sangat khas. Semua ini wajib dilindungi dan diproteksi dari derasnya arus komersialisasi yang sering kali menggerus nilai aslinya,” tegas I Gede Suralaga.

Bedah Tantangan: Dari Spiritual, Arsitektur Hingga Hukum

Seminar ini menghadirkan para pakar dan narasumber kompeten yang membedah tantangan kompleks yang dihadapi Bali dari berbagai perspektif menyeluruh:

– Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma, S.IP.: Menegaskan bahwa nilai-nilai ajaran Hindu, keberadaan Pura, dan sistem Subak adalah tiga pilar sekaligus benteng spiritual utama yang telah menjaga eksistensi dan keseimbangan Pulau Dewata selama berabad-abad.
– Dr. I Gusti Made Sunartha (Kakanwil Kemenag Bali): Menyoroti strategi pendidikan keagamaan dan pewarisan nilai, agar adat istiadat serta dresta Bali tetap relevan, dipahami, dan dihayati oleh generasi penerus di masa depan.
– Ar. I Nyoman Gede Maha Putra, Ph.D.: Mengulas pentingnya menjaga arsitektur dan tata ruang Bali yang berlandaskan prinsip keseimbangan alam dan kearifan lokal, sebagai wujud nyata harmoni manusia dengan lingkungannya.
– Jero Penyarikan Duuran Batur: Mengingatkan kembali filosofi dasar kehidupan masyarakat Bali, yakni konsep Sagara-Giri dan ritus pengelolaan air, yang menjadi fondasi utama kelestarian alam dan kehidupan sosial masyarakat.
– Made Gede Arthadana, SH., MH.: Menekankan urgensi harmonisasi dan sinkronisasi antara hukum adat dan hukum nasional, agar tercipta keseimbangan sosial atau Pawongan yang adil dan berkelanjutan di era global.

Orasi Kebangsaan: “Bali Adalah Cahaya Dunia, Berhenti Jadi Penonton!”

Puncak acara ditandai dengan orasi kebangsaan yang menggugah semangat, disampaikan oleh Ketua Umum Puskor Hindunesia, Dr(HC). Ida Bagus Ketut Susena, S.Kom, atau akrab disapa Gus Susena. Baginya, seminar ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah momentum kebangkitan dan ruang perjuangan pemikiran untuk menyelamatkan identitas bangsa.

“Bali bukan sekadar wilayah administratif peta negara. Bali adalah peradaban hidup, Bali adalah cahaya dunia. Namun saat ini kita menghadapi ancaman nyata: alih fungsi lahan yang masif, lunturnya nilai adat, dan budaya yang mulai diperjualbelikan semata demi pasar,” tegas Gus Susena dengan penuh keyakinan.

Beliau mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tingkat desa adat, akademisi, hingga kaum profesional, untuk berhenti bersikap pasif atau sekadar menjadi penonton.

“Mari ambil peran aktif sebagai penjaga peradaban. Jangan sampai warisan leluhur ini lenyap di tangan generasi kita sendiri,” serunya.

Hasil Kesepahaman: Transformasi Harus Berpijak pada Roh Spiritual

Melalui diskusi mendalam yang berlangsung, seluruh peserta mencapai kesepahaman bersama: bahwa segala bentuk pembangunan dan transformasi di Bali ke depannya harus tetap berpijak dan tidak melepaskan akar serta roh spiritualitasnya.

Disimpulkan pula bahwa kunci keberhasilan menjaga warisan peradaban Bali terletak pada sinergi kuat antara kebijakan pemerintah yang berpihak pada kearifan lokal, serta kesadaran kolektif masyarakat untuk terus merawat dan menghidupkan nilai-nilai luhur tersebut. Langkah ini mutlak diperlukan agar Bali terus lestari, tidak kehilangan jati diri, dan tetap menjadi kebanggaan bangsa Indonesia di mata dunia.

(Kadek Ariawan)

nusamedia

Bersama Menyuarakan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *