Nusamedia Bali

Pasar Sebagai Nafas Kehidupan Warga: Budi Mulyawan Tekankan Revitalisasi Menyeluruh Perumda Pasar Jaya

NUSAMEDIANEWS.COM | JAKARTA – Pasar rakyat bukan sekadar tempat transaksi jual beli, melainkan ruang kehidupan yang menjadi tumpuan ekonomi, ikatan sosial, dan harapan hidup masyarakat luas. Demikian pandangan mendalam yang disampaikan Budi Mulyawan, SH, Ketua Umum DPN Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan) sekaligus Pendiri Ketua Dewan Pembina Jaya Center Foundation (JCF), saat menyoroti peran vital serta kebutuhan pembenahan menyeluruh terhadap Perumda Pasar Jaya.

Budi menegaskan bahwa pasar berfungsi sebagai ekosistem ekonomi yang kompleks. Di dalamnya terjalin keterhubungan antara petani, nelayan, pedagang, tenaga kerja jasa, hingga pembeli akhir. “Kalau ekonomi warga adalah gerbong, pasar adalah lokomotifnya. Ketika pasar bergerak, banyak sektor ikut bergerak,” ujarnya.

Kekuatan pasar rakyat juga terletak pada dimensi sosial yang tak tergantikan oleh pusat perbelanjaan modern maupun platform digital. Hubungan dibangun di atas kepercayaan, praktik kebersamaan, dan ruang pertukaran informasi keseharian. “Pasar bukan mesin kasir. Pasar adalah ruang hidup. Di pasar, uang bertemu manusia dan manusia bertemu manusia,” tegas Budi.

Revitalisasi: Lebih dari Sekadar Bangunan Fisik

Dalam konteks pengelolaan oleh Perumda Pasar Jaya, Budi menilai badan usaha ini harus diposisikan bukan sekadar pengelola aset, melainkan instrumen pelayanan publik dan penggerak perekonomian. Meskipun berbagai upaya pembenahan telah dijalankan, evaluasi menyeluruh tetap diperlukan guna memastikan manfaat dirasakan secara adil.

Masalah klasik seperti fasilitas terbatas, sanitasi, drainase, keamanan, hingga penataan ruang masih terasa di beberapa titik. Oleh karena itu, revitalisasi tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik semata.

“Revitalisasi harus mencakup aspek fisik maupun nonfisik. Perbaikan gedung penting, namun peningkatan kualitas sumber daya manusia dan tata kelola pasar juga tidak kalah krusial,” urainya.

Pedagang perlu didampingi dalam hal pemasaran digital, pencatatan usaha, pengemasan, hingga pelayanan konsumen. Sementara pengelolaan pasar harus profesional, transparan, dan mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen modern.

Modernisasi Tanpa Kehilangan Jiwa Kerakyatan

Pasar rakyat kini menghadapi persaingan ketat dengan ritel modern dan e-dagang. Budi mengingatkan agar proses pembaruan tidak menghilangkan karakter asli pasar.

“Jangan membuat pasar rakyat kehilangan jiwanya ketika dimodernisasi. Yang harus diperbarui adalah fasilitas, pelayanan, tata kelola, dan kemampuan pedagangnya,” ujarnya.

Pasar juga dinilai sebagai wadah kemandirian ekonomi yang inklusif—memberi peluang bagi siapa saja untuk memulai usaha tanpa syarat latar belakang yang kaku. Bahkan bagi kaum perantau, pasar menjadi ruang solidaritas yang penting.

Khususnya untuk pasar-pasar strategis seperti Pasar Induk Kramat Jati, diperlukan visi jangka panjang yang menempatkan peran pasar sebagai urat nadi distribusi pangan, bukan sekadar menunggu persoalan muncul. Selain itu, regenerasi pedagang dan pemanfaatan teknologi digital dipandang penting agar pasar tidak menjadi “museum ekonomi”, melainkan tetap relevan sebagai inkubator UMKM.

Pasar Adalah Paru-Paru Ekonomi Rakyat

Budi menyimpulkan bahwa pasar adalah nafas kehidupan ekonomi warga. Selama masih masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sana, maka keberadaan pasar harus dijaga kesehatannya.

“Tugas kita bukan sekadar membangun pasar. Tugas kita adalah membangun perekonomian melalui pasar dan memastikan nafas ekonomi warga tidak pengap. Pasar hidup, warga hidup. Pasar mati, ekonomi rakyat ikut sesak,” pungkas Budi Mulyawan.

(Chairul | Nusamedia)

 

Tagar: #PasarRakyat #EkonomiKerakyatan #RevitalisasiPasar #PerumdaPasarJaya #PembangunanEkonomi #UMKM #KemandirianEkonomi #Nusamedia

nusamedia

Bersama Menyuarakan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *