Penobatan dan Penyematan Lencana Emas Supranatural Gerbang Nusantara

NUSAMEDIANEWS.COM | BULELENG – Sebuah momen penghargaan dan pengakuan istimewa terjadi bagi seniman dan budayawan Bali, Dr. Bapak Jero Pande Made Suardana, BA, S.Pd, M.Si, warga Kabupaten Buleleng, Bali. Ia resmi menerima penobatan dan penyematan Lencana Emas Supranatural Gerbang Nusantara yang diselenggarakan oleh Yayasan Pasopati Cakra Nusantara Cahaya, yang berpusat di Kota Surabaya.
Penghargaan ini menjadi titik terang yang mengungkap makna mendalam dari setiap karya dan pertunjukan yang telah ia lakoni selama ini. Bagi Jero Pande Made Suardana, dunia seni yang ia geluti, mulai dari menampilkan tarian sakral seperti Topeng Dalem Sidakarya, Barong Rangda, hingga berbagai tarian lainnya, sejatinya tidak sekadar gerakan seni belaka.
“Bagi saya, menampilkan tarian sakral Topeng Dalem Sidakarya, Barong Rangda, dan tarian-tarian lainnya, walaupun ada yang tidak bersifat sakral, saya selalu melakukannya disertai doa. Saya berharap setiap tarian yang saya pentaskan selalu terhubung dan menjadi anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap Jero Pande Made Suardana saat diwawancarai langsung.




Menurutnya, segala gerak dan ekspresi yang ia tampilkan selalu didasari dengan niat suci dan permohonan agar seninya menjadi sarana penghubung dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, ketika ia akhirnya menerima penghargaan Lencana Emas Supranatural Gerbang Nusantara ini, perasaannya sangat terharu.
“Setelah ada penobatan dan penyematan Lencana Emas Supranatural Gerbang Nusantara ini, saya baru tersadar dan tahu bahwa apa yang selama ini saya lakoni ternyata memiliki makna yang begitu dalam dan supranatural. Rasanya sangat terharu, apalagi bisa bertemu dengan saudara-saudara sesama pelaku, para senior dalam konteks supranatural ini. Saya hanya bisa mengelus dada dan mengucapkan rasa syukur yang mendalam atas karunia Tuhan Yang Maha Esa yang disampaikan melalui Yayasan Pasopati Cakra Nusantara Cahaya,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Dengan tersematnya lencana kehormatan tersebut, Jero Pande Made Suardana menyadari bahwa tanggung jawab yang dipikulnya kini semakin besar. Ia mengamati bahwa di masyarakat, istilah “supranatural” sering kali dimaknai sebagai sebuah kehebatan atau kekuatan magis yang luar biasa. Pandangan ini membuatnya bertekad untuk jauh lebih berhati-hati dalam setiap langkah dan kegiatan yang akan dilakukan ke depannya.
“Kedepannya, saya akan jauh lebih berhati-hati. Karena tanggapan kebanyakan orang, supranatural itu diartikan sebagai kehebatan. Maka dari itu, saya akan berpikir seribu kali lipat lebih dulu sebelum melaksanakan atau menyetujui suatu kegiatan,” tegasnya.
Meski kini menyandang gelar dan penghargaan tersebut, Jero Pande mengaku secara pribadi ia merasa tidak memiliki kelebihan atau kemampuan istimewa sebagaimana pemahaman orang banyak. Ia hanya mengabdikan dirinya pada seni dan budaya dengan penuh penghayatan spiritual.
“Saya mohon bimbingan dari semua pihak. Ke depannya mungkin akan banyak cobaan dan ujian untuk menguji sejauh mana kemampuan supranatural ini. Padahal jujur saja, saya merasa tidak memiliki kemampuan seperti itu. Saya hanya manusia biasa yang mencoba menjaga nilai-nilai luhur seni,” ujarnya rendah hati.
Terakhir, tokoh budayawan Buleleng ini berdoa semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan perlindungan, kekuatan, dan menjauhkannya dari segala hal negatif, gangguan, maupun niat buruk dari pihak-pihak yang tidak senang dengan langkah pengabdiannya di dunia seni dan budaya.
(Kadek Ariawan)
