Nusamedia Bali

SAMPAI KAPAN RAKYAT BALI DIBUAT MENDERITA KARENA BBM? WARGA BULELENG ANTRE 13 JAM DEMI 3 LITER PERTALITE

NUSAMEDIANEWS.COM | BULELENG, BALI — 17 OKTOBER 2026, Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali kembali menyisakan kisah memprihatinkan. Di Kabupaten Buleleng, warga dilaporkan harus mengantre hingga 13 jam hanya demi mendapatkan 3 liter Pertalite. Waktu istirahat dikorbankan, malam dilewati tanpa tidur, sementara kepastian mendapatkan BBM masih menjadi tanda tanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, seorang warga bernama Kadek Sunarta terpaksa mengantre di SPBU Jalan Gajah Mada, Kelurahan Banjar Jawa, Buleleng, sejak pukul 17.00 WITA hingga pukul 06.00 WITA keesokan harinya.

Antrean panjang kendaraan roda dua maupun roda empat dilaporkan mengular hingga ke sepanjang jalan raya. Ketidakpastian kedatangan mobil tangki pengangkut BBM turut menambah keresahan warga yang membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Ironisnya, perjuangan menunggu semalaman itu disebut hanya demi memperoleh BBM dalam jumlah terbatas.

“Ini potret nyata penderitaan rakyat di lapangan. Hanya demi mendapatkan BBM sebanyak 3 liter, warga harus rela begadang dan berdiri dalam antrean panjang dari jam 5 sore sampai jam 6 pagi. Itu pun tanpa ada kepastian apakah akan dapat BBM atau tidak,” ujar Kadek Ariawan alias Wang Wang, Kontributor Nusamedia, saat memberikan kesaksian dari lokasi.

Antrean Panjang, Aktivitas Warga Terganggu

Kondisi yang dilaporkan terjadi di SPBU Jalan Gajah Mada tersebut menambah daftar keluhan masyarakat terkait sulitnya memperoleh Pertalite di Bali.

Kelangkaan dan keterlambatan pasokan BBM juga dilaporkan terjadi di sejumlah SPBU di wilayah Kecamatan Buleleng dan sekitarnya. Situasi ini berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pekerja, pengemudi, pedagang, serta pelaku usaha kecil yang bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah.

Bagi sebagian warga, BBM bukan sekadar kebutuhan kendaraan, melainkan penunjang utama penghasilan keluarga. Ketika waktu berjam-jam habis di antrean, kesempatan bekerja dan memenuhi kebutuhan rumah tangga pun ikut terancam.

Pertanyaan yang kini mengemuka di tengah masyarakat adalah sampai kapan kondisi seperti ini harus berlangsung?

Pertamina Diminta Bertindak Nyata

Masyarakat berharap Direksi dan manajemen PT Pertamina (Persero), bersama PT Pertamina Patra Niaga selaku pihak yang menangani distribusi dan pemasaran BBM, segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan pasokan di Bali, khususnya Kabupaten Buleleng.

Penanganan tidak cukup hanya dengan mengatur antrean atau mengimbau masyarakat agar tetap tertib. Kepastian jadwal kedatangan mobil tangki, ketersediaan stok di SPBU, serta kelancaran distribusi hingga ke tingkat konsumen perlu menjadi perhatian utama.

Transparansi informasi mengenai kondisi pasokan juga dibutuhkan agar warga tidak harus menghabiskan waktu semalaman dalam ketidakpastian.

Jika antrean panjang terus berulang, evaluasi menyeluruh terhadap distribusi BBM patut dilakukan oleh pihak-pihak terkait. Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan yang layak dan kepastian akses terhadap BBM sesuai ketentuan yang berlaku.

Rakyat Membutuhkan Kepastian, Bukan Sekadar Janji

Kisah warga yang disebut mengantre selama 13 jam demi 3 liter Pertalite menjadi gambaran betapa beratnya dampak gangguan pasokan terhadap kehidupan sehari-hari.

Pemerintah daerah dan Pertamina diharapkan segera memberikan penjelasan terbuka mengenai penyebab persoalan di lapangan serta langkah nyata untuk memastikan distribusi kembali berjalan lancar.

Sebab, ketika rakyat harus mengorbankan waktu istirahat dan kesempatan mencari nafkah hanya demi mendapatkan beberapa liter BBM, yang dibutuhkan bukan sekadar penjelasan, melainkan solusi yang nyata dan terukur.

Sampai kapan masyarakat Bali harus menghadapi situasi seperti ini?

(Kadek Ariawan)

nusamedia

Bersama Menyuarakan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *