SUMATERA GELAP GULITA: LISTRIK “HOBI” LIBUR DUA KALI SEHARI, KEAMANAN DAN AKTIVITAS JADI TARUHAN

NUSAMEDIANEWS.COM, MEDAN – Warga Kota Medan dan sekitarnya seolah kembali ditarik ke masa lalu, di mana kegelapan malam menjadi pemandangan biasa. Padahal zaman sudah serba canggih, namun pelayanan kelistrikan di wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) seolah belum beranjak dari masalah klasik: pemadaman berulang yang tak kunjung selesai dan membuat warga semakin lelah menanti kepastian.
Berdasarkan pengumuman resmi yang disampaikan PT PLN (Persero) bersama Danantara Indonesia, sistem kelistrikan wilayah Sumbagut kembali mengalami gangguan besar atau blackout yang terjadi tepat pukul 18.45 WIB. Dampaknya sangat terasa meluas, mulai dari Medan hingga Padangsidimpuan, meliputi Kecamatan Angkola Barat, Angkola Selatan, Batang Toru, Muara Batang Toru, Marancar, hingga Angkola Sangkunur. Arus listrik mati total tanpa ada kepastian waktu kapan aliran listrik akan hidup kembali.
Pihak PLN dalam rilisnya menyebutkan bahwa tim teknis masih melakukan investigasi penyebab gangguan dan berupaya memulihkan kondisi secepatnya. Namun, yang paling disayangkan, hingga saat ini belum ada estimasi waktu pasti kapan aliran listrik kembali normal. Pihaknya pun kembali menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan ini—kata-kata yang rasanya sudah terlalu sering didengar warga, namun masalah dasarnya tak juga kunjung usai.
Warga Sindir Pemadaman “Rajin” 2 kali dalam sehari seperti jadwal Rutin”

Di tengah upaya perbaikan yang entah sampai kapan berlangsung, keluhan warga Medan dan wilayah penyangga memuncak. Bukan hanya sekali dalam sehari, namun dalam kurun waktu 24 jam saja, warga seolah disuguhi “jadwal rutin” pemadaman yang sangat mengganggu aktivitas.
Seorang warga Medan yang tidak mau disebutkan identitasnya tak mampu lagi menutup rasa kesal dan sarkasmenya. Bagaimana tidak, siang hari sekitar pukul 13.00 WIB baru saja selesai bergelut dengan kegelapan, malam harinya tepat pukul 19.00 WIB listrik kembali “libur” dan belum juga beroperasi hingga larut malam.
“Rasanya lucu tapi menyakitkan. Dalam sehari ini sudah dua kali mati, pukul 13.00 WIB siang tadi, terus sekarang jam 7 malam mati lagi sampai sekarang. Apa listrik kita ini hobi libur atau memang perbaikannya yang belum ketemu akar masalahnya? Dua kali dalam sehari, jadwalnya saja sudah teratur sekali,” sindir warga tersebut sambil menggelengkan kepala.* Keamanan Terancam: Ancaman Pencurian Muncul di Tengah Kegelapan
Dampak yang ditimbulkan pun terasa nyata dan berbahaya. Segala aktivitas rumah tangga terhenti, pelaku usaha merugi karena barang dagangan terancam rusak dan operasional toko mati total. Namun yang paling mengkhawatirkan adalah aspek keamanan dan ketertiban umum yang benar-benar dipertaruhkan.
Jalanan sepi penerangan membuat warga merasa tidak aman beraktivitas, risiko kriminalitas mengintai, sementara penerangan jalan pun mati suri. Kondisi mencemaskan ini juga dirasakan langsung oleh warga di Kecamatan Patumbak. Salah satu warga di desa setempat menyampaikan keluhannya bahwa pemadaman ini membawa dampak buruk nyata bagi keamanan lingkungan.
“Kejadian ini membuat kondisi lingkungan jadi sangat tidak aman. Seperti yang kami alami di salah satu desa di Kecamatan Patumbak ini, pada saat pemadaman listrik terjadi, beberapa dusun di wilayah kami mengalami gangguan keamanan yang cukup serius. Bahkan ada kejadian rencana pencurian yang berusaha dilakukan di rumah kami, pelaku memanfaatkan kesempatan saat lampu mati total,” ungkap warga Patumbak dengan nada cemas.
Keresahan belum berhenti di situ. Kondisi krisis ini ternyata berlanjut hingga hari kedua. “Tidak hanya itu, pada hari kedua pun listrik juga tidak kunjung menyala, seluruh aktivitas warga jadi sangat terganggu dan lumpuh total. Itulah keluhan kami di sini, kami merasa tidak aman dan sangat dirugikan,” tambahnya menegaskan.
Warga pun kini bertanya-tanya, bagaimana jika kondisi seperti ini berlanjut berhari-hari? Apakah masyarakat harus terbiasa hidup di zaman kegelapan lagi? PLN kerap meminta maaf, namun perbaikan yang dilakukan rasanya masih jalan di tempat dan belum menyentuh akar masalah.
“Kami baru merasakan dampak buruknya dalam satu dua hari saja, rasanya sudah pusing tujuh keliling. PLN minta maaf terus, tapi perbaikannya kok rasanya jalan di tempat saja,” tambah warga Medan lainnya.
Warga berharap, kali ini perbaikan yang dilakukan benar-benar tuntas dan menyelesaikan masalah dari akarnya, bukan sekadar tambal sulam yang membuat pemadaman berulang terus terjadi. Masyarakat sudah lelah mendengar kata “maaf”, yang dibutuhkan sekarang adalah pelayanan yang terjamin, pasokan listrik yang andal, kepastian hukum, dan jaminan keamanan bagi warga yang terancam di tengah kegelapan.
Sampai berita ini diturunkan, kawasan Kota Medan, Kecamatan Patumbak, serta wilayah terdampak lainnya masih diselimuti kegelapan, menunggu tanda kehidupan dari jaringan listrik yang entah sampai kapan akan pulih sepenuhnya.(Saka)
