AIR IRIGASI PSDA MELUAP, LAHAN UBI TERGENANG AIR: PULUHAN PETANI DI BAHAL BATU TERANCAM GAGAL PANEN TOTAL
NUSAMEDIANEWS.COM | SIMALUNGUN — Puluhan petani ubi kayu di Desa Bahal Batu, Kecamatan Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun, mengalami kekhawatiran mendalam dan kerugian besar akibat luapan air saluran irigasi yang dikelola Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengelolaan Sumber Daya Air (UPTD PSDA). Genangan air yang terus berlangsung membuat umbi membusuk di dalam tanah dan mengancam kegagalan panen secara menyeluruh musim ini.





Bahal Batu, Senin 10 Agustus 2026 — Keluhan mulai terdengar sejak beberapa hari terakhir, ketika debit air saluran irigasi meningkat dan meluap keluar dari batas saluran, kemudian mengalir masuk serta menggenangi lahan ladang hortikultura milik warga yang menanam ubi kayu.
Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya saluran pembuangan atau drainase pemisah yang memadai antara wilayah persawahan yang dialiri air irigasi dengan lahan pertanian kering tempat penanaman ubi. Padahal tanaman ubi kayu sangat membutuhkan tanah yang gembur, tidak lembap berlebih, dan bebas dari genangan air agar akar dapat bernapas dengan baik serta umbi berkualitas hingga masa panen tiba.
“Sangat merugikan kami. Ubi yang terendam air lama-lama membusuk di dalam tanah, jadi tidak bisa dipanen dan tidak laku dijual sama sekali. Jika tidak segera ada penanganan dalam beberapa hari ke depan, seluruh modal, waktu, dan keringat kami selama berbulan-bulan akan hilang habis tanpa hasil,” ungkap salah satu petani terdampak di Desa Bahal Batu dengan nada cemas.
Bagi sebagian besar masyarakat di Desa Bahal Batu, hasil panen ubi kayu menjadi salah satu tumpuan pendapatan utama untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga dan biaya sekolah anak. Sifat tanaman yang sensitif terhadap kelembapan tinggi membuatnya cepat rusak: saluran udara pada akar terhambat, lalu muncul pembusukan yang menyebar ke seluruh bagian umbi sehingga tidak layak dikonsumsi maupun diperdagangkan.
Para petani berharap pihak UPTD PSDA Kabupaten Simalungun beserta instansi pertanian terkait segera turun ke lokasi untuk meninjau langsung penyebab luapan air, mengatur kembali debit aliran air irigasi, serta membantu membuka saluran pembuangan darurat guna mengeringkan sisa lahan yang belum rusak parah.
Selain penanganan darurat di lapangan, warga juga menuntut kejelasan tanggung jawab pemerintah daerah maupun pengelola irigasi terkait kerugian yang dialami akibat kebijakan pengaturan aliran air yang dinilai kurang memperhatikan tata ruang lahan dan kebutuhan beragam jenis tanaman pertanian warga.
Masyarakat berharap persoalan ini tidak hanya sekadar didengar, tetapi segera ditindaklanjuti dengan solusi nyata demi menyelamatkan sisa hasil pertanian dan mencegah kejadian serupa terulang pada musim tanam berikutnya.
(Kristian)
—
