Nusamedia Bali

Jaga Keseimbangan Alam dan Harmoni Nusantara, Manggala Taksu Agung Gelar Upacara Pengerestiti Jagat dan Parisuda Bumi di Besakih

NUSAMEDIANEWS.COM | KARANGASEM, BALI – Komunitas spiritual Manggala Taksu Agung menggelar rangkaian upacara suci bertajuk Pengerestiti Jagat Manggala Taksu Agung di kawasan Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem.

Rangkaian karya suci yang meliputi Upacara Pakelem dan Upacara Parisuda Bumi tersebut dilaksanakan pada Jumat (25/9/2025), dengan pusat kegiatan di Pura Gua Raja Besakih dan Pura Penataran Agung Besakih.

Manggala Taksu Agung merupakan wadah Pengerestiti Jagat yang menghimpun berbagai unsur masyarakat, mulai dari Sulinggih, Pemangku atau Pinandita, tokoh masyarakat, pejabat, pengusaha hingga krama Hindu (welaka).

Seluruh prosesi upacara berlangsung secara runtut dan khidmat dengan penuh rasa bakti. Prosesi dipandu oleh salah satu pendiri Manggala Taksu Agung, Jro Gede Komang Widiarta, S.T., dari Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung.

Memohon Kerahayuan dan Keseimbangan Alam

Penyelenggaraan karya suci tersebut dilandasi semangat tulus ikhlas (ngayah) serta petunjuk spiritual (pawisik) yang diterima Ketua Panitia sekaligus salah satu pendiri Manggala Taksu Agung, Jro Sinar, asal Wanagiri, Selemadeg, Tabanan.

Kegiatan tersebut bertujuan memohon kerahayuan, mengembalikan taksu, kedamaian dan keseimbangan antara Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.

Selain itu, rangkaian doa tersebut juga dimaksudkan sebagai permohonan agar Bali dan Nusantara senantiasa diberikan keselamatan serta terhindar dari berbagai musibah dan bencana alam.

Salah satu rangkaian utama adalah malinggihang lan mulang pakelem ring Padmasana/Basukian (Arcamanik) dengan menghaturkan pakelem di Pura Gua Raja Besakih yang diyakini sebagai stana suci Ida Sang Hyang Bhagawan Siddhi Mantra dan Naga Basukhi.

Rangkaian berikutnya berupa Nangluk Merana lan Manggala Taksu Jagat, yakni pelaksanaan pembersihan spiritual (sukla-asukla) serta upaya meruwat aura negatif (kadurmanggalaan) di jagat Bali dan Nusantara.

Pura Gua Raja juga dijadikan pancer atau hulu spiritual untuk rangkaian penyucian dan penguatan sebelum dilaksanakannya puncak Upacara Parisuda Bumi.

Selain aspek spiritual, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat persatuan umat sedharma sekaligus memohon sinar taksu kerahayuan bagi seluruh masyarakat.

Dipuput Dua Sulinggih

Rangkaian upacara sakral tersebut dipuput oleh dua Sulinggih penuwuran, yakni Ida Ratu Peranda Istri Anom Menuh dari Griya Telabah, Kerobokan, Badung, dan Ida Ratu Peranda Gede Putra Sakti Arimbawa dari Griya Tegeh, Karangasem.

Sejumlah tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan dan tokoh spiritual turut hadir dan menyaksikan pelaksanaan upacara.

Di antaranya perwakilan Kabag Kesra Kota Denpasar yang mewakili Wali Kota Denpasar, Bendesa Adat Besakih Jro Mangku Widiarta, Pembina Manggala Taksu Agung Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., serta sejumlah tokoh spiritual dan masyarakat lainnya.

Kekhusyukan rangkaian upacara juga dilengkapi pementasan seni sakral (wali/sesolahan).

Pementasan tersebut meliputi Tari Pemendakan Kerti Bhakti dan Rejang Siwa Puja oleh Sekaa Tari Puskor, serta Sesolahan Wayang dan Topeng Sidakarya yang dihaturkan oleh maestro seni Prof. I Nyoman Sudana.

Berlandaskan Tri Hita Karana

Manggala Taksu Agung merupakan paguyuban Pengerestiti Jagat yang menjalankan kegiatan berdasarkan semangat ngayah tanpa pamrih serta berlandaskan ajaran Tri Hita Karana, yakni Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.

Dalam aspek Parahyangan, komunitas ini aktif ngayah di berbagai Pura Kahyangan Jagat dan Dhang Kahyangan, membantu penyelenggaraan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya bagi umat Hindu di Bali maupun di luar Bali, serta menjalankan kegiatan berdasarkan pawisik yang diyakini berkaitan dengan keselamatan alam semesta.

Pada aspek Pawongan, kegiatan diarahkan untuk mempererat persaudaraan atau masemetonan antarsesama umat, termasuk melalui kegiatan sosial, penyaluran bantuan sembako, bantuan pendidikan serta bhakti atau Rsi Yadnya kepada para Sulinggih dan Rsi.

Sementara pada aspek Palemahan, Manggala Taksu Agung menjalankan kegiatan kebersihan lingkungan tempat suci (mareresik), penghijauan serta penanaman pohon di kawasan pura dan hutan suci sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Manggala Taksu Agung disebut sebagai komunitas yang terbuka bagi siapa saja yang memiliki ketulusan dan kesediaan untuk ngayah. Komunitas tersebut membuka ruang bagi masyarakat yang ingin bergabung dalam kegiatan pelayanan spiritual maupun sosial.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Manggala Taksu Agung berupaya menjaga semangat kebersamaan, pengabdian dan kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat.

(Kadek Ariawan)

nusamedia

Bersama Menyuarakan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *