DaerahEkonomiHead LinesHukrimHukumUMKMUpdate News

Penyaluran Benih Padi Unggul Tujuan Perkuat Ketahanan Pangan Paluta Diduga Jadi Ajang Pungli dan Korupsi

NUSAMEDIANEWS.COM, PADANG LAWAS UTARA – Program penyaluran bantuan benih padi unggul yang digulirkan melalui Dinas Pertanian Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), yang sejatinya bertujuan memperkuat ketahanan pangan daerah, justru diduga kuat dijadikan ajang pungutan liar (Pungli) dan praktik korupsi oleh kelompok tertentu di lingkungan dinas terkait. Berdasarkan hasil penelusuran dan konfirmasi Nusamedia News ke berbagai pihak yang terlibat dalam penyaluran bantuan tersebut, ditemukan sejumlah kejanggalan yang mencurigakan di lapangan.

Berdasarkan data awal dan dokumentasi saat penyaluran tahap pertama, jenis benih padi yang disalurkan adalah benih unggul berlabel Cap Kapal Terbang jenis Cierang. Penyaluran dilakukan oleh pihak Dinas Pertanian ke masing-masing kelompok tani melalui perantara Manajer Brigade, dengan ketentuan pembagian disesuaikan dengan luas lahan yang tercatat dalam daftar kelompok.

Namun, fakta di lapangan sangat berbeda dari prosedur ideal. Berdasarkan pengakuan sejumlah anggota kelompok tani yang dikonfirmasi awak media, mereka dipungut biaya sebesar Rp15.000 hingga Rp20.000 untuk setiap satu zak bantuan berisi 5 kilogram. Padahal, bantuan tersebut bersifat gratis dan merupakan hak petani.

Sebagai gambaran kebutuhan, untuk satu hektare hamparan sawah membutuhkan sekitar 25 kilogram benih padi atau setara dengan 5 zak. Artinya, petani harus mengeluarkan uang tambahan yang tidak sedikit hanya untuk mendapatkan bantuan yang seharusnya cuma-cuma.

Kecurigaan semakin kuat ketika sejumlah Ketua Kelompok Tani juga mengaku jatah kuota benih yang seharusnya mereka terima dipotong atau dikurangi dalam jumlah cukup besar, berkisar antara 1 hingga 2 ton per kelompok. Pemangkasan ini diduga dilakukan oleh pihak Manajer Brigade dengan cara berkolaborasi bersama Bidang Tanaman Palawija dan Hortikultura Dinas Pertanian Paluta.

Menariknya, setelah isu ini mulai terendus dan diperbincangkan oleh kalangan wartawan, terjadi kejanggalan baru. Pihak Manajer Brigade diketahui segera mengganti benih yang sempat disalurkan dan diduga telah dijual ke pihak lain, dengan jenis benih biasa yang kualitasnya di bawah standar dan bukan lagi jenis Cierang seperti yang dijanjikan.

“Yang menjadi patokan awal adalah benih unggul Cap Kapal Terbang jenis Cierang. Namun setelah kelakuan ini terbongkar, justru yang dibagikan kepada kelompok tani berubah menjadi benih padi Cap Bintang Tani Andalan atau Bintang TA. Ini jelas ada ketidakwajaran,” ungkap salah satu sumber.

Publik pun kini mempertanyakan kejelasan asal-usul bantuan tersebut. Benih jenis apa yang sebenarnya dikirimkan oleh Kementerian Pertanian RI? Apakah Cap Bintang Tani Andalan atau Cap Kapal Terbang jenis Cierang? Pasalnya, dari segi spesifikasi dan kualitas kedua jenis benih tersebut memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Bagaimana mungkin lebih dari 100 ton benih bantuan yang disalurkan pusat melalui Dinas Pertanian Paluta justru memiliki dua merek berbeda? Dugaan yang beredar di masyarakat, ada indikasi permainan harga di mana jenis benih yang lebih mahal atau unggul justru diselewengkan dan dijual ke pasar, sementara yang dibagikan ke petani adalah jenis benih dengan kualitas di bawahnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Bidang Tanaman Palawija dan Hortikultura Dinas Pertanian Paluta belum dapat dihubungi atau memberikan keterangan terkait sejumlah kejanggalan dan dugaan penyimpangan yang terjadi dalam penyaluran bantuan benih padi tersebut. (A. Siregar)

nusamedia

Bersama Menyuarakan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *