Akibat Pemadaman Listrik, Bocah Usia 9 Tahun Hanyut Terbawa Arus

NUSAMEDIANEWS.COM, DELI SERDANG – Duka mendalam menyelimuti warga Desa Patumbak 2, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun meninggal dunia setelah hanyut terbawa arus sungai, insiden yang berawal dari pemadaman listrik berlangsung seharian penuh dan membuat warga terpaksa mandi di sungai karena aliran air di rumah tidak mengalir.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu (24/5/2026). Sejak pagi, listrik di wilayah itu mati total dan tidak kunjung menyala kembali. Akibatnya, sistem penyediaan air bersih berhenti bekerja, memaksa banyak warga turun ke sungai untuk mandi, mencuci, dan keperluan lain, meski debit air cukup tinggi dan arus cukup deras pasca hujan semalam.
Korban yang belum disebutkan namanya, ikut bersama kerabat ke aliran sungai tak jauh dari pemukiman. Saat sedang mandi, kakinya terpeleset dan langsung terseret arus deras, menghilang di balik semak-semak dan tikungan sungai. Warga yang ada di lokasi berusaha menolong namun gagal mengimbangi kecepatan aliran air.
Kepanikan segera melanda keluarga dan warga sekitar. Pencarian langsung digelar melibatkan puluhan warga setempat, Babinsa Desa Patumbak Serka Wilopo, serta tim relawan. Penelusuran dilakukan menyusuri sepanjang aliran sungai hingga ke wilayah Desa Lantasan Lama, Kecamatan Patumbak, sepanjang hari meski kondisi semakin gelap karena lampu penerangan jalan juga mati total.
Baru sekitar pukul 21.00 WIB, tim pencari berhasil menemukan jenazah korban dalam keadaan sudah tidak bernyawa, tersangkut di akar pohon pinggir sungai di wilayah Desa Lantasan Lama, sekitar 1,5 kilometer dari tempat kejadian awal.



Serka Wilopo mengungkapkan, kondisi sungai saat itu sangat berbahaya. “Arus cukup kencang dan air keruh. Pencarian sempat terhambat karena gelap gulita, kami hanya mengandalkan senter dan cahaya api unggun warga. Alhamdulillah akhirnya ditemukan, meski tak bernyawa lagi,” ujarnya.
Warga setempat mengaku sangat kecewa dan menyesalkan pemadaman berdurasi panjang tersebut. Bagi mereka, mati lampu bukan hanya soal gelap, tapi memutus akses kebutuhan dasar seperti air bersih, hingga memicu risiko bahaya seperti kejadian ini.
“Kalau listrik menyala, air di rumah mengalir, tentu anak kami tidak perlu ke sungai. Ini murni dampak dari mati lampu yang tak ada jadwal jelasnya. Kami sangat berduka,” ungkap salah satu keluarga korban dengan nada sedih. Pemadaman ini diketahui bagian dari gangguan sistem kelistrikan besar yang melanda sebagian wilayah Sumatera Utara sejak Jumat (22/5/2026), di mana pasokan listrik terhenti total akibat gangguan transmisi dan belum pulih sepenuhnya hingga Sabtu sore .
Hingga berita ini diturunkan, jenazah telah diserahkan ke keluarga untuk dimakamkan. Warga berharap kejadian serupa tidak terulang dan PLN lebih sigap menangani gangguan serta memberikan informasi jelas agar warga tidak terpaksa mengambil risiko berbahaya demi kebutuhan sehari-hari . (Erwin)
