
SUKABUMI, NUSAMEDIANEWS.COM – Warga Desa Bantargadung, khususnya di wilayah Dusun Cimanggala, mengungkapkan kekhawatiran mendalam terkait kondisi akses jalan Linggaresmi – Cimanggala yang diduga mulai rusak akibat lalu lintas kendaraan berat proyek.
Kekhawatiran ini muncul seiring dengan berlangsungnya kegiatan yang diduga kuat merupakan proyek pemagaran lahan di kawasan tersebut, yang lokasinya berdekatan dengan area peternakan. Warga menilai aktivitas angkut material menggunakan truk besar tidak mempertimbangkan daya dukung jalan yang ada, ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang sering hujan sehingga mempercepat kerusakan.
“Jalan yang sebelumnya lumayan bagus, sekarang kami harus mencemaskan apakah bisa bertahan lama. Di beberapa titik sudah terlihat bergelombang dan aspalnya mulai terkelupas. Apalagi saat hujan, kondisi jalan makin parah. Kalau sudah rusak nanti, kapan lagi bisa diperbaiki?” ungkap salah satu warga kepada media ini, Senin (04/05/2026).



Daya Dukung Jalan Hanya untuk Kendaraan Ringan
Berdasarkan data dan observasi di lapangan, akses jalan sepanjang kurang lebih 2 Km ini diklasifikasikan sebagai jalan kelas III C atau jalan lingkungan yang didesain dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) maksimal 8 ton. Jalan desa ini memang dikonstruksi khusus untuk kendaraan ringan, sepeda motor, dan mobil pribadi, bukan untuk truk bermuatan berat.
Namun kenyataannya, mobil dump truck pengangkut material diduga membawa beban yang sangat berlebih, diperkirakan mencapai 7 hingga 8 ton per kendaraan. Hal ini dipastikan akan memperpendek usia jalan dan menyebabkan kerusakan permanen seperti permukaan bergelombang dan aspal terkelupas.
Camat Instruksikan Cek Lapangan
Menanggapi aspirasi warga, Camat Bantargadung, Syarifuddin Rahmat, AP, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp menyatakan telah menindaklanjuti laporan tersebut.
“Saya sudah menugaskan Sekretaris Camat dan Kasi Trantib untuk cek lapangan memastikan adanya kegiatan tersebut,” ujarnya.
Warga juga berharap jika nantinya lahan tersebut akan digunakan untuk usaha skala besar seperti peternakan, izin lingkungan dan dampak infrastruktur harus menjadi prioritas, bukan justru merusak fasilitas umum terlebih dahulu.
Klarifikasi Pihak Proyek
Di tempat terpisah, Pemimpin Proyek (Pimpro) yang akrab disapa Pak Khendar memberikan klarifikasi. Ia membenarkan bahwa saat ini kegiatan yang berlangsung baru sebatas pemagaran batas tanah.
“Sekarang ini hanya pemagaran batas tanah, belum ada gambaran untuk peternakan ayam. Memang tadinya rencananya buat proyek ayam, namun sayangnya mengalami kendala dan gagal, terutama terkait kebutuhan air yang kurang terpenuhi,” jelasnya.
Harapan Warga
Di tengah kecemasan tersebut, masyarakat berharap adanya upaya pemeliharaan jalan segera dilakukan. Perawatan rutin dinilai sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih dini, menjaga fungsi jalan agar tetap aman dan nyaman dilalui, serta menekan biaya perbaikan yang kemungkinan besar akan semakin mahal jika kerusakan sudah parah. Warga juga meminta kepala desa untuk bersikap tegas terkait aturan muatan kendaraan yang melintas.(mb)